Jumat, 04 September 2020

CAHAYA : (Pengantin Jawa) Jangan Percaya Mulut Ki Suratman (Part 10)

CAHAYA :  (Pengantin Jawa) Jangan Percaya Mulut Ki Suratman (Part 10)


Zulfa masih mematung di depan kamar itu. Kedua kakinya mendadak susah digerakkan. Wanita berjubah hitam dengan kukunya yang panjang dan hitam merayap dan mendekat ke arah Zulfa. Rambutnya yang panjang menjuntai menutupi wajahnya sehingga tak terlihat dengan jelas. AGEN POKER ONLINE

AGEN POKER ONLINE - AGEN DOMINO QQ - AGEN BANDAR Q ONLINE - AGEN SAKONG - AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA

Hanya dalam sekejap mata sosok mengerikan itu sudah ada di hadapan Zulfa. Entah apa yang terjadi, lidah Zulfa seketika kelu. Ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata apa pun.


Wajahnya pun berkeringat dingin. Ingin sekali ia lari dan meminta tolong. Tapi, sekujur tubuhnya seakan membatu, sulit sekali digerakkan.


Zulfa lalu dicekik. Tubuhnya ditarik masuk ke dalam kamar. Pintu seketika tertutup dengan sendirinya.


“Jangan…!” dari kejauhan Anjani berteriak saat melihat Zulfa dibawa oleh makhluk itu. Anjani menangis lantaran tidak bisa berbuat apa-apa.


Jauh sebelum Mojosari kena kutukan, kampung itu sebenarnya tempat yang nyaman dan tentram. Setiap tahunnya selalu ada pernikahan yang digelar di kampung itu. Semuanya baik-baik saja, tidak ada mitos sinting yang mengatakan kalau pernikahan adalah sebuah kesialan.


Tapi, itu dulu… ketika kampung itu dipimpin oleh Ki Abidin. Ia adalah tetua kampung sebelum Ki Suratman.


Saat itu Ki Abidin adalah orang terkaya di Mojosari. Lain halnya dengan Ki Suratman, dulunya ia adalah orang miskin yang bekerja sebagai kuli cangkul di sawahnya Ki Abidin.


Ki Suratman menikahi Kanti, seorang gadis Mojosari. Mereka berdua tinggal di gubuk reot yang terletak di tengah persawahan milik Ki Abidin. Setiap hari kerjaan Ki Suratman dan Kanti mengurus sawah majikannya itu. Mereka sangat patuh kepada Ki Abidin.


Selain mengurus sawah, Ki Suratman juga dipekerjakan untuk menjaga kambing Ki Abidin. Ada lima ekor kambing yang diurus Ki Suratman. Setiap sore, ia ngarit untuk memberi makan kambing-kambing itu.


Semua berjalan baik-baik saja. Hingga pada suatu hari Ki Suratman tertimpa masalah. Satu ekor kambing etawa yang ia urus tiba-tiba mati. Sedangkan itu adalah kambing kesayangannya Ki Abidin.


Kejadian itu membuat Ki Abidin marah besar. Ki Suratman dimaki-maki. Kanti juga tidak luput dari amarah Ki Abidin. Padahal kematian kambing itu bukan kesalahan Ki Suratman. Sebab, ia sudah mengurusnya dengan baik. Kematian kambing itu murni disebabkan oleh penyakit. AGEN DOMINO QQ

AGEN POKER ONLINE - AGEN DOMINO QQ - AGEN BANDAR Q ONLINE - AGEN SAKONG - AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA

“Bangsat kau, Suratman! Kau apakan kambingku, heh?!”


“Sumpah, Ki. Aku sudah mengurusnya dengan benar. Sekarang memang sedang musim penyakit,” jawab Ki Suratman.


“Halah alasan saja! Kau dan istrimu memang kacung sialan!”


Ki Suratman tidak terima dicaci separah itu. Ia sangat sakit hati. Ia berjanji, akan melakukan apa pun demi balas dendam pada Ki Abidin.


Tengah malam Ki Surtaman pergi ke hutan Gantarawang. Itu adalah hutan terlarang dan sangat angker. Hutan itu sangat jarang dijamah manusia. Semua orang tahu kalau di sana ada sumur keramat yang menjadi sarang setan.


Konon dulunya di sana ada pengantin perempuan yang mati bunuh diri dengan cara loncat ke dalam sumur. Ki Suratman ingin minta petunjuk kepada roh pengantin itu agar bisa kaya dan menjadi terhormat di Mojosari. Lebih dari itu, ia ingin membunuh Ki Abidin dengan cara gaib.


Setelah sempat nyasar, akhinya Ki Suratman berhasil menemukan sumur keramat. Sumur itu dirimbuni semak belukar. Ki Suratman harus membersihkannya terlebih dahulu sebelum melakukan ritual.


Ki Suratman duduk sila di depan sumur sambil membakar kemenyan untuk mengundang makhluk gaib. Ia tidak tahu kalau di atas pepohonan banyak makhluk halus yang sedang memperhatikan tingkahnya.


Tidak lama setelah menyan itu dibakar, muncul sesosok wanita berjubah hitam dari dalam sumur. Ia merayap mendekat ke arah Ki Suratman.


“Nyai, tolong aku! Aku mau kaya-raya dan balas dendam kepada Ki Abidin,” bisik Ki Suratman sambil terus menunduk.


Wanita itu menjulurkan lidahnya yang panjang lalu menjilati pipi Ki Suratman. Kemudian dari dalam mulutnya, ia mengeluarkan segumpal daging berwarna hitam pekat.


“Istrimu harus makan ini,” kata makhluk mengerikan itu dengan suara parau. AGEN BANDAR Q


“Baik, Nyai,” Ki Suratman mengambil gumpalan daging itu lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam.



Sebelum subuh, Ki Suratman sudah tiba di saungnya. Kanti masih tidur pulas. Buru-buru Ki Suratman membangunkan istrinya itu.


“Kanti, bangun! Kanti…,” Ki Suratman mengguncangkan tubuh istrinya.


“Ada apa, Mas?” tanya Kanti masih dalam keadaan mengantuk.


Ki Suratman mengeluarkan segumpal daging dari dalam plastik.


“Makan ini,” ia menyodorkan daging tersebut ke wajah mulut Kanti.


Kanti menolak. Sebab, daging yang disodorkan suaminya bergerak-gerak seperti hidup. Ia merasa jijik.


“Kamu harus makan ini. Aku pengin sugih (aku mau kaya),” bentak Ki Suratman.


Ia mencekoki Kanti, memaksanya untuk menelan daging tersebut. Ketika daging berhasil ditelan, punggung Kanti tiba-tiba terasa panas seperti dibakar.


Kanti mengamuk sambil berteriak kesakitan seperti cacing kepanasan. Ki Suratman tidak tahu apa yang akan terjadi dengan istrinya itu. Di punggung Kanti ada benjolan yang bergerak-gerak membuat Kanti semakin berteriak kesakitan. Ia pun jatuh pingsan.


Dan, keesokan paginya, saat Ki Suratman bangun, Kanti sudah tidak ada di saung. Ia menghilang entah ke mana.


0 komentar:

Posting Komentar