Sabtu, 31 Oktober 2020

CAHAYA : STORY - Rusin (Part 4)

CAHAYA : STORY -  Rusin (Part 4)


Sampailah kami di taman belakang rumah, kulihat Bapak ada di sana, ia tengah membaca koran dan meminum kopi dari cangkir di sampingnya.


"Bapak," ia nampak menengok ke arahku, senyum cerah mengambang di sudut bibirnya. Akupun berlari mendekat. AGEN POKER ONLINE

AGEN POKER ONLINE - AGEN DOMINO QQ - AGEN BANDAR Q - AGEN SAKONG - AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA

"Pak, Juni pengen pulang," keluhku pada Bapak yang memelukku hangat Ia mengendurkan rangkulannya, seraya menatapku dan berkata.


"Ini kan ya rumahe Juni, ada Bapak ada Mbak Novi," jawabnya.


"Tapi Juni kangen Ibu Pak," tegasku pada Bapak yang seperti menghalangiku untuk bertemu Ibu.


"Bapak mau berangkat kerja dulu ya nak," ujarnya tanpa sepatah kata pun menjawab keluhanku.


Aku berlari ke arah kamarku dan menangis di sana, aku kangen ibu, Juni kangen ibuk.


Beberapa bulan ku lalui di sini dengan sangat berat-hati. Sekolahku dipindahkan kemari, hari hariku terasa menguras emosi. Ibu tiriku masih saja memperlakukanku seperti bukan anak manusia, ia selalu mengumpat dan memaki tiap kali aku melakukan kesalahan. Ia pun acap kali memukulku bila Bapak dan Mbak Novi sedang tidak berada di rumah.


Hanya Mbak Desi lah satu satunya tempatku bersandar, ia pun sering menangisi nasibku, namun bagaimanapun ia tak dapat melawan nyonya rumah ini. Hingga suatu pagi, datang beberapa anggota polisi ke rumah kami. Mereka mengabarkan sesuatu pada Bapak.


Entah apa yang mereka katakan hingga membuat bapak terkejut seketika. Badannya terlihat lemas hingga kakinya tak mampu lagi menopang beban di atasnya. Bapak ambruk dan sesak napas untuk beberapa saat sampai semua orang di rumah merasa panik.

AGEN DOMINO QQ


Bapak diangkat beberapa orang rumah dan direbahkan ke sofa


"Juni.. Juni.. Nak," panggil Bapak lirih.


"Iya pak ini Juni pak," sahutku yang mulai menangis melihat Bapak. Ia pun mencoba untuk duduk dan ikut menangis menatapku.


"Ibukmu ninggal nduk," ucapnya dengan berat hati.


Kini giliranku yang harus merasakan kejutan rasa sakit. Dadaku seperti tersengat oleh listrik secara spontan, aku masih tidak bisa mempercayainya namun hanya dengan mendengar kata itu perasaanku bagai kaca yang telah remuk hancur berkeping-keping.


Di sisi lain ibu tiriku justru terawa terbahak-bahak merasakan puas yang teramat sangat mengetahui hal ini. Ia kini merasa bahagia karena perempuan yang merebut suaminya telah pergi dan taakan kembali.


"Hoho udah mati ya?, ya baguslah jalang ngapain hidup lama-lama. Kalo perlu kamu sekalian ikut nyusul ibumu nak," ucapnya dengan semangat sembari mengelus rambut kepalaku.


Baru kali ini aku merasakan sentuhan halus ibu tiriku, sentuhan dengan rasa puas mendendam. Kami semua pun segera pergi menuju tempat jenazah ibuku berada.



Terlihat banyak sekali warga dari seluruh penjuru desa mengerumuni rumah Ibu. Gang yang sempit ini terisi oleh banyak manusia yang berebut melihat pemandangan tidak wajar di sana. Keluarga kami berjalan ke arah rumah, telah terpasang garis polisi yang membentang panjang mengelilingi pagar dan halaman sekeliling rumah.


Bapak menggendongku, aku terus saja menangis tanpa henti. Kami langsung diijinkan masuk oleh para petugas. Kulihat di dalam rumah jenazah ibuku tergantung tinggi dengan tali menjerat lehernya. Tali yang diikat kencang pada kerangka atap rumah ini, rumah yang menjadi tempat semua kenanganku bersama ibu berada.


"Bapak.. Ibu pak Ibu, "


"Ibu, jangan tinggalin Juni bu, Juni janji Juni gak nakal lagi bu, tolongin ibu Juni om tolongin kasihan ibu di atas sana," jeritku teriakku pada Ibu dan semua orang yang ada di sana.


Aku merasa emosi tak karuan mengapa mereka hanya melihat dan tak segera membantu ibu turun. Ibu pasti bisa dihidupkan, ibu pasti bisa diselamatkan kembali, pikirku kala itu.


Tubuh kecilku meronta menendang nendang Bapak. Ia hanya menangis dan sekuat tenaga mencoba menahan gerakku. Aku memukul-mukuli badannya dan semakin berontak.


Kulihat para petugas dibantu beberapa warga mencoba menurunkan tubuh Ibu bersama-sama. Mbak Desi masuk dan meraihku dari Bapak, ia menggendongku menuju keluar rumah dan pemandangan terakhir yang kulihat justru adalah kenangan terburukku akan sosok Ibu.


Matanya melotot lebar dan mengarah ke atas seakan hampir copot dan lidahnya menjulur panjang hingga melebihi dagunya sendiri. Sungguh tak pernah kubayangkan nasib seperti ini akan terjadi dalam hidupku.


Proses pembersihan berlangsung sampai malam, dan mau tak mau kami melangsungkan takziah di rumah ini, 'omah bekas kendat' kata warga. AGEN BANDAR Q


Jam terus berdetik dan menunjukkan pukul tujuh malam. Aku masih sangat terpukul dan tak sanggup lagi melihat jenazah Ibu. Di kamarku sendiri, aku ditemani oleh Mbak Desi yang terus berusaha membujukku untuk makan.


"Jun, kamu kalo gak maem nanti sakit," ucapnya yang duduk di sampingku dengan mata iba.


"Juni pengen Ibu," tegasku.


Akhirnya ia menyerah dan memilih diam membiarkanku.


"Cklek.. kreeet" suara pintu kamarku dibuka.


Kulempar pandangan ke arahnya, Ibu Mei. Ibu Mei berjalan kemari dan mengajakku untuk tidur di rumahnya bersama Mei, ia nampak berbicara dengan berusaha mempertahankan nadanya yang mulai bergetar karena tangis.

AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA | GAMPANG MENANG !!!

"Nak Juni, tidur di rumah Tante ya sama Mei," ajaknya membujuk


"Gamau, Juni pengen Ibu," tolakku tanpa basa-basi. Akhirnya Ibu Mei keluar, ia tak mau memaksaku.


0 komentar:

Posting Komentar