"Trengteng teng teng teng" suara motor milik ayah Mei pun terdengar nyaring hingga ke rumahku. Tandanya orangtua Mei telah pulang.
Bapakku segera berjalan menuju rumah Mei, ia meraih tangan Mei, menggandengnya dengan tangan kanan dan aku masih berada pada gendongan tangan kirinya. Ya, meskipun sudah berumur namun Bapakku masih terlihat gagah dan awet muda, tenaganya pun masih sangat kuat. AGEN POKER ONLINE
Sesampainya di rumah Mei, ia menurunkanku dari gendongannya dan berjalan menghampiri orangtua Mei. Mereka menyambut tangan Bapakku dengan perasaan bersyukur.
"Juni, Mei, masuk kamar dulu ya nak main di kamar," perintah Ayah Mei pada kami berdua, kami pun menurut.
Bapakku dan Ayah Mei terlihat duduk di teras dan sedang berbincang serius. Sedangkan Ibu Mei pergi ke dapur untuk membuatkan minum dan camilan.
Selang beberapa waktu terlihat Bapak Febri datang kemari, entah apa yang mereka bicarakan hingga berjam jam. Akhirnya, Bapak masuk ke dalam kamar Mei. Ia berpamitan padaku dan berjanji beberapa hari ke depan akan menjemputku kembali.
"Yang nurut ya nak, gak boleh nakal," pesannya padaku.
Kelihatannya mereka sepakat untuk menitipkanku di sini. Bapakku pun kembali ke rumahku lalu kembali lagi ke rumah Mei dengan membawa banyak baju serta barang barangku. Ia hanya mengelus rambutku lalu pamit pada orangtua Mei dan Bapak Febri.
Lagi-lagi terlihat mobil Bapakku melewati jalanan depan rumah Mei ini, entah kemana ia akan pergi lagi.
Beberapa hari pun berlalu, aku mulai terbiasa tinggal di rumah Mei. Akupun sudah bersekolah seperti biasa. Setiap hari Febri memboncengku dengan sepedanya, sedangkan Mei mengayuh sepedanya sendiri.
"Feb?, gak capek apa tiap hari boncengin aku terus?," tanyaku padanya.
"Gak, makanya cepet besar biar nanti gantian aku kamu boncengin," jawab Febri sambil tersenyum.
Kemanapun aku pergi, kedua temanku itu selalu menjagaku. Kami selalu bertiga, bersama-sama entah itu di rumah atau di sekolah kami selalu bertiga.
Ayahku kembali, namun kali ini dia bersama seseorang.
"Ibu," panggilku antusias, namun ternyata tak seperti dugaanku, perempuan itu bukan Ibu, ia tersenyum padaku dan memperkenalkan diri.
"Assalamualaikum dek, pasti kamu ya yang namanya Juni?," tanyanya.
Aku hanya mengangguk tanpa berkedip, ia kembali tersenyum dan mengelus rambutku.
"Mbak namanya Desi, mulai sekarang mbak yang bakal jagain kamu," terangnya padaku.
Ternyata Ayah membawa seorang pengasuh untukku, Ia mengobrol untuk beberapa saat dengan tuan rumah lalu mengajakku untuk berpamitan.
Jadi, apakah sekarang adalah waktunya aku berpisah dengan kawan-kawan?. Mei menangis mendahuluiku, ia menarik tanganku dan menyeretku ke rumah Febri. Febri yang tengah bermain kelereng segera menghampiri kami.
Ia pun ikut menangis sesenggukan melihat Mei menangis walaupun belum tahu alasan Mei menangis. Tangisku pun ikut pecah, kami bertiga menangis hingga Ibu Mei menyusul kemari. Ia mengatakan bahwa Bapakku akan segera mengajakku berangkat jadi kami harus kembali kesana. Akhirnya, kami bertiga pun berpisah.
Di dalam mobil, aku tak tahu hendak dibawa kemanakah aku. Pikiranku bercampur aduk, Mbak Desi mencoba menenangkanku, ia mengusap usap punggungku sambil mengatakan bahwa semua baik-baik saja. AGEN DOMINO QQ
Kini, tibalah kami di satu rumah yang asing bagiku. Rumah siapa ini?, kami turun dari mobil dan Bapak menggandengku masuk.
"Praaaang!" suara suatu benda yang pecah menghantam dinding mengejutkanku.
"Berani beraninya kamu mas ngajak anak perempuan jalang itu kemari?," teriak seorang perempuan paruh baya dari dalam rumah. Anak perempuan jalang?, apa maksutnya itu?.
"Des, ajak Juni ke kamarnya," perintah Bapak yang segera diiyakan oleh Mbak Desi.
"Nggih Pak," jawabnya.
Setibanya di kamar, suara pertengkaran Bapakku dan perempuan itu masih terdengar jelas dan sangat keras hingga ke kamarku. Aku yang ketakutan hanya meringkuk di dalam dekapan Mbak Desi.
Banyak hal yang kudengar dari pertengkaran mereka, meskipun aku baru berusia sembilan tahun, kini aku mulai memahami semuanya.
Ternyata perempuan itu adalah istri pertama Bapak. Sedang Ibu, ia hanya istri simpanan Bapak. Aku tahu pasti, kehadiranku sangat tidak diinginkan oleh keluarga mereka.
Kini aku pun tahu alasan Bapak jarang pulang kerumah Ibu bukan karena ia sedang berada di proyek bangunan seperti yang kutahu selama ini, melainkan ia harus berada di sini, di rumah istri pertamanya yang lebih berhak atas dirinya. Bapak bukan pula seorang mandor bangunan, nyatanya ia adalah seorang pengusaha kaya raya di daerah kami.
Mentari telah terbit, cahayanya terlihat menembus tirai jendela kamar yang masih terasa asing bagiku ini. Mbak Desi telah tiada di sebelahku, aku pun beranjak menuju kamar mandi.
Di kaca, kulihat mataku membengkak karena menangis semalaman. Aku membasuh mukaku dengan air lalu berjalan keluar kamar untuk mencari Bapak. Namun di tengah perjalanan aku bertemu dengan seorang perempuan muda, mungkin ia baru berusia dua puluh tahunan.
Ia tersenyum padaku dan menghampiriku
"Juni toh?," tanyanya.
Aku mengangguk ketakutan, aku takut akan ada seseorang yang mengamuk seperti semalam ketika melihatku.
"Aku Novi, jangan takut ya dek aku kakak perempuanmu," jelasnya.
Kakak perempuanku?.
"Kamu laper ya pasti, ayo sarapan dulu," ujarnya padaku.
Aku pun duduk dengannya di meja makan yang berada di dapur. Di atasnya sudah tertata rapi banyak makanan, namun kemana semua orang?.
Ia mengambil satu piring dan mengisinya dengan berbagai lauk dan nasi, ia menaruhnya di hadapanku.
AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA | GAMPANG MENANG !!!
"Makanlah," perintahnya.
Akupun segera memakannya sampai habis, lalu ia pun mengajakku berkeliling.







0 komentar:
Posting Komentar