Keheningan malam ini terasa berbeda, udara dingin menusuk tulang kurasakan begitu hebatnya. Untunglah ibu Mei memberiku selimut tebal yang kiranya cukup membalut tubuhku yang tak seberapa besar ini.
Perlahan mataku mulai terpejam, mimpi?, apakah saat ini aku benar benar sudah terlelap?.
"Hihihihi.." suara tawa mengagetkanku.
Siapa?, siapa yang sedang bermain tengah malam begini?. Suara itu, suara balita yang terdengar sedang asik tertawa riang. Saat mulai terhanyut dalam mimpi, samar mulai kulihat seorang anak laki-laki cacat tengah bermain di hadapanku. AGEN POKER ONLINE
Ya, anak yang bahkan terlihat baru berusia beberapa tahun dan tidak bisa berjalan normal karena cacat fisik bawaan. Tangannya kecil sebelah dengan jari-jari yang bengkok tak beraturan. Wajahnya terlihat normal, ia tampan dan terlihat familiar bagiku.
Kakinya panjang sebelah dengan satu kaki yang putung sungguh mengenaskan, entah mengapa melihatnya hatiku terasa amat sakit walaupun nyatanya ia terlihat sedang asyik bermain sendirian.
"Dek?," panggilku sembari lebih mendekat padanya.
Ia hanya menengok ke arahku, menatap wajahku lalu tertawa kembali
"Ahihihihi," mengesot, ia berjalan dengan cara mengesot. Mendorong tubuhnya dengan satu kakinya yang normal dan menopang badannya dengan satu tangannya. Seakan mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya, akupun melangkah keluar dari kamar Mei bersamanya.
Kulihat di luar rumah cahaya temaram menyinari. Bukankan ini sudah malam?, apakah ini masih sore atau jangan-jangan ini sudah pagi?, etahlah.
Dia masih saja mengesot bahkan saat kami melewati jalan aspal dengan banyak kerikil kecil bertebaran, aku tak tega melihatnya. Kuangkat badan itu dengan setengah jijik, meskipun jijik namun naluriku ingin sekali membantunya.
Lagi lagi ia tertawa
"Hi hi hi hi nono," katanya sambil menunjuk ke arah rumahku.
"Mau ngapain ke rumahku?,"tanyaku padanya.
Kini ia berada di pinggang kecilku, kurasakan badannya sama sekali tidak berat. Ternyata setelah kuperhatikan badan itu teramat kurus, banyak bekas luka pada punggungnya.
Akupun melangkah masuk ke halaman rumah, gelap, kenapa rumahku terlihat sangat gelap?, oh iya ibu sedang tidak ada di rumah. Mungkin para tetangga lupa tidak menyalakan lampu di rumahku.
Aku melangkah masuk, namun tetiba getaran hebat terasa pada tubuhku. Seakan menolak masuk, seketika rasa takut teramat besar menyelimutiku. AGEN DOMINO QQ
Tubuhku mematung, kini dadaku benar-benar sesak, sama sekali tak bisa ku gerakkan sesuai kemauanku. Bocah yang tadi berada di gendonganku mendadak lenyap, kini tinggal aku sendirian di rumahku ini.
"Oeeek oeeek oeeek," tangisan bayi, rumah ini kini sangat bising dipenuhi oleh tangisan bayi. Entah suara berapa saja anak hingga mampu membuat telingaku berdenyut pening mendengar suara tangisan yang sangat ramai itu.
Aku mulai menangis, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menangis. Aku ingin berontak, badanku meronta ingin bergerak bebas, namun lagi lagi aku tak bisa berkutik sedikitpun.
Tangisku mulai memuncak sejadi jadinya, hingga…
"Juniii… Juni.. tolooong tolong,"
Terdengar suara teriakan membangunkanku serta goncangan pada tubuhku. Apa ini?, tubuhku lemas saat itu juga. Kesadaranku mulai menurun dan pandanganku gelap.
Aku membuka mata, kulihat lagi pemandangan yang mirip seperti siang tadi. Mataku silau, terasa nyeri terkena cahaya lampu di atasku. Apakah aku barusan bangun?, bukannya tadi aku sedang berada di rumahku sendiri?, banyak sekali orang yang berkumpul di sekelilingku, para ibu ibu menangis tersedu memandangiku, dan beberapa orang lain mengaji di luar kamar Mei.
Haha, ternyata aku hanya bermimpi, esok hari Mei menceritakan padaku bahwa semalam badanku mengejang tak karuan. Aku mengerang dengan sangat keras seperti seseorang yang tengah kesurupan.
Benarkah demikian?, jika memang iya, apa alasan mereka mengganggu hidupku?, apa salahku?. Pagi ini, ibu belum juga nampak pulang, mau tak mau aku harus tinggal lebih lama di rumah Mei.
"Jun, Mei, sini nak sarapan dulu," panggil bapak Mei pada kami berdua.
Kami yang tengah berada di halaman depan pun masuk kerumah untuk sarapan. Hari ini aku dilarang ibu dan bapak Mei untuk bersekolah, jadi saat Mei sekolah aku hanya seorang diri di sini.
Bapak Mei adalah seorang perhutani, dan ibunya adalah seorang guru. Jadi tiada seorangpun di rumah saat siang hari. Waktuku kuhabiskan untuk istirahat dan membereskan pekerjaan di rumah Mei.
Meskipun tiada yang menyuruhku, dan pasti mereka akan melarangku jika tahu aku melakukannya tapi aku sangat ingin berusaha tidak merepotkan mereka. AGEN BANDAR Q
Tak terasa terik matahari sudah mulai menyengat, tanda bahwa siang hari telah datang.
"Juuun.. aku tadi lihat ibumu," teriak Mei yang berlari terengah engah menghampiriku.
"Kapan Me? dimana?," tanyaku antusias.
"Tadi ibumu naik becak Jun, lewat sekolah kita," jelas Mei yang terlihat masih kelelahan akibat berlari.
Aku hanya diam, tak tahu apa yang harus kuucapkan saat itu. Kepalaku terasa kosong, apakah orangtuaku tak lagi mempedulikanku?. Tak kusangka perasaan menyakitkan muncul dalam dadaku, sesak, terasa begitu sesak hingga nafas hampir tak mampu kulakukan kutahan air mataku, semampuku kutahan rasa ingin menangis ini.
Sore, kala aku dan Mei menunggu orangtua Mei pulang kerja tetiba sedan putih melewati jalanan depan rumah Mei.
"Bapak… " gumamku.
"Bapakku pulang Mei," ujarku pada Mei yang segera menarikku berdiri.
"Ayo buruan, ayo ke rumahmu!," buru Mei yang antusias
Kami berdua pun segera berlari menuju rumahku terlihat Bapak baru saja turun dari mobilnya, ia celingukan menatap rumah yang sepi itu.
"Pakkk… " panggilku yang segera memeluknya.
Ia terlihat senang melihatku yang kemudian menggendongku Mei mendekat ke arah kami dan memberi salam pada Bapakku.
"Adek kok sampe jam segini masih main aja?, ini juga kenapa rumahnya tumben ga disapu sama Ibu?," tanya Bapakku yang belum tahu apa-apa.
Perasaan kecamuk kurasakan lagi, namun kini tangisku pecah. Bapak semakin bingung melihatku menangis.
"Bude Septi tidak ada Pakde, sudah dua hari ini Bude gak pulang," ucap Mei tiba-tiba yang mengejutkan Bapakku.
AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA | GAMPANG MENANG !!!
Ya, nama ibuku adalah Septiani dan Mei memanggil orangtuaku dengan sebutan "Dhe" tentu saja karena usia bapakku jauh lebih tua dari orangtuanya.







0 komentar:
Posting Komentar