Catatan suami Juni,
Juni namanya, anak perempuan periang yang dipilih Tuhan untuk menjadi istriku. Namun nyatanya Tuhan lebih sayang kepadanya, hingga harus kurelakan ia meninggalkanku untuk berada di sisi-Nya.
Mari kuceritakan luka busuk yang ada di keluarga kami, keluarganya dahulu yang menjadi sumber derita bagi Juni kecil.
"Srek srek srek" suara gesekan dari seikat sapu lidi yang beradu dengan paving halaman sebuah rumah terdengar nyaring hingga ke seberang jalan.
"Bug bug bug bug bug" derap langkah beberapa anak di sana pun menambah kebisingan di sore itu.
"Aduh ibu, Juni jatuh bu," teriak seorang anak perempuan yang tampak menahan isak tangis dan ngilu pada luka di lututnya. Sang ibu menengok ke arah Juni, entah mengapa ia tersentak kaget. Matanya membelalak lebar seakan tengah melihat hantu di siang bolong.
Rupanya nampak sepotong tangan tengah memegangi pergelangan kaki Juni. Ya, tangan seorang anak kecil yang membiru dan putus hanya sampai siku. Dalam sekejap, bayangan itu hilang dari pandangannya.
"Bulik gapapa?," tanya Febri, sahabat Juni.
"Jun Jun jadi anak perempuan kok gak bisa diem, jam segini temennya malah diajak lari larian," ucap perempuan yang dipanggil Ibu oleh si Juni.
Ibu Juni nampak berusaha terlihat baik baik saja
"Cepet berdiri Jun, aku pulang ya," ujar Mei, tetangga Juni yang juga seumuran dengannya.
"Aku juga lah, ayam-ayamku belum aku kandangin," sahut Febri yang menyusul pamit pada Juni.
Rumah mereka berdekatan, masih berada dalam satu gang dan kebetulan mereka semua seumuran serta sekolah di tempat yang sama.
"Tante saya pulang dulu ya," pamit mereka sambil berjalan menuju rumah masing-masing, Ibu Juni hanya mengangguk tak menjawab.
Azan maghrib telah berkumandang, di rumah Juni, hanya ada ia dan sang ibu. Kebetulan malam itu sampai dua hari ke depan ayahnya tidak ada di rumah karena harus berada di proyek.
Ayah Juni adalah seorang mandor bangunan, dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Kini, Juni berusia 9 tahun. Pemikirannya mulai berkembang dan ia sering mempertanyakan banyak hal.
"Bu, Bapak umur berapa?," tanya juni tiba-tiba.
Ibunya mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Juni
"59, ngapain tanya tanya umur?," ibunya justru berbalik tanya.
"Lah Ibu berapa?, kok kelihatannya masih muda?," tanya Juni kembali.
Memang jarak usia antara Bapak dan Ibu Juni terlihat sangat jauh. Ibu Juni baru berumur sekitar 32 tahunan saat itu. Ia tidak menjawab, ia hanya melanjutkan kegiatannya dengan membisu.
Juni yang merasa kesal karena menunggu lama namun tak kunjung mendapat jawaban akhirnya pun berhenti bertanya dan beranjak pergi ke kamarnya.
Di kamar, Juni merebahkan dirinya di atas ranjang empuk miliknya. Malam ini ia sedang malas belajar.
"Ckiiit ckiiit krieet" decit lantai kayu membuyarkan lamunan Juni, ia segera duduk dan memeriksa bawah
"Apaan ya tadi?," tanya Juni pada dirinya sendiri.
Kepalanya celingukan ke kanan ke kiri mencari asal suara tadi
Ia melangkahkan kakinya menuruni ranjang
"Kreeet kreet kreet" sementara suara itu masih terdengar jelas, kini ia menemukan sumber bunyi itu.
Salah satu papan kayu yang menjadi lantai di kamarnya berdecit tiada henti serta menimbulkan getaran getaran kecil, seakan ada sesuatu yang mendorongnya dari bawah.
"Tok tok tok" tanpa rasa takut, Juni mengetuk papan itu
"Krieeet"
Suara decit kayu itu terdengar lagi dari papan di sebelahnya. Dan lagi-lagi Juni mengetuknya. Hal itu terjadi pada hampir seluruh papan di dalam kamarnya. Bukannya curiga, Juni justru merasa seakan mendapat teman baru. Ia tersenyum sambil berlari larian memburu papan yang bergiliran berdecit itu.
Pagi harinya, Juni menceritakan kejadian semalam pada sang Ibu, namun lagi lagi ibunya hanya diam dan menelan ludah dalam dalam.
Sepulang sekolah, Juni mencari keberadaan ibunya. Namun ternyata Ibu Juni sedang tidak ada di rumah.
"Ah mungkin lagi pergi arisan," gumam Juni.
Anak yang tengah merasa lapar itu segera menuju meja makan dan membuka tudung saji di atasnya. Tak perlu waktu lama ia telah mengisi penuh piring di tangannya.
Ia dengan lahap makan sendirian di rumah itu hingga pada beberapa suap terakhir giginya merasa seperti tengah menggigit sesuatu.
Ia memuntahkan yang sedang ia kunyah dalam mulutnya itu. Nampak potongan sebuah jari bayi berada di sekitar nasi muntahannya.
Juni yang masih merasa penasaran pun meraih benda itu untuk memastikan.
"Aaaaaaaaaaaa….," ia menjerit ketakutan lalu pingsan seketika. AGEN DOMINO QQ
Sudut pandang Juni,
"Jun.. Bangun nak bangun," Samar-samar ku dengar suara seseorang, suara itu terdengar berusaha membangunkanku. Kini telapak tangan dan kakiku pun mulai merasakan gosokan-gosokan lembut yang mengenai permukaan kulitku.
Berat, badanku terasa berat sekali bahkan mataku sangatlah susah untuk dibuka.
"Puk puk puk"
Tepukan ringan mendarat di pipi kecilku hingga akhirnya aku mulai tersadar. Mataku menangkap beberapa orang berada di sekelilingku, mereka semua adalah tetanggaku.
Para orang tua, anak anak remaja mereka, tak luput pula kedua temanku Mei dan Febri yang terlihat menangis sesenggukan melihatku terbaring.
Alhamdulillah pak bu anaknya bangun," ucap ibu Mei yang duduk di sebelah kiriku.
"Ibunya udah dateng belum," tanya salah seorang warga.
"Belum tuh, ke mana sih sebenernya," kesal warga lain.
Dalam keadaan setengah sadar, aku mencoba mengingat ingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Saat ingatanku mulai pulih, seketika perutku terasa mual dan kumuntahkan seluruh isinya.
Ibu Mei yang terkejut segera memegangi tubuhku dan memijat mijat tengkukku.
"Loh pak, gimana ini anaknya makin pucet gini," buru ibu Mei yang makin khawatir pada kondisiku.
Akhirnya akupun dibawa ke Puskesmas oleh warga, kulihat di luar matahari mulai tenggelam. Jadi berapa lama aku tak sadarkan diri?. Dokter di sana hanya mengatakan bahwa aku kelelahan, jadi mereka segera membawaku pulang. AGEN BANDAR Q
Sesampainya di rumah, ternyata ibuku tak kunjung pulang. Ibu Mei pun membawaku untuk menginap di rumahnya, dia mengurusiku seperti anak perempuannya sendiri. Entah apa yang dilakukan ibu di luar sana, mengapa ia tak pulang? Ibu pergi ke mana bu?.
AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA | GAMPANG MENANG !!!
Malam ini terasa sangat panjang untuk kulalui. Kulihat Mei telah tertidur pulas di sebelahku, nampaknya ia kelelahan menangisiku sedari siang tadi.







0 komentar:
Posting Komentar