Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dari kampung Mojosari. Penduduknya mayoritas bertani, para pemudanya kebanyakan pengangguran yang setiap hari hanya nongkrong di pos ronda. Kampung itu sama sekali tidak terkenal, bayi yang lahir di sana seakan sudah ditentukan garis hidupnya, ya apalagi kalau bukan menjadi orang melarat. AGEN POKER ONLINE
Namun, ada hal yang tidak lazim di kampung Mojosari. Pernikahan di kampung itu hanya bisa dilakukan tengah malam. Tidak ada keramaian apalagi pesta meriah. Orang-orang di kampung Mojosari malah takut kalau ada yang menikah di kampung mereka.
Seperti yang terjadi malam itu, semua orang menutup pintu rumah mereka rapat-rapat karena tahu kalau akan ada orang yang menikah. Di sebuah rumah kayu yang lebih pantas disebut gubuk digelar sebuah pernikahan sederhana. Gubuk itu bukanlah rumah si mempelai wanita atau pria, tapi memang pernikahan di kampung itu hanya boleh dilakukan di dalam gubuk tersebut.
Hanya ada satu kamar di sana yang tidak boleh dibuka oleh siapa pun kecuali Ki Suratman, tetua di kampung itu. Setiap ada yang menikah maka di dalam gubuk itu akan terdengar suara jeritan wanita yang pasti membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik ngeri. AGEN DOMINO QQ
Anjani seorang mempelai wanita sudah didandani dengan sangat cantik. Ia memakai gaun adat jawa berwarna hitam dengan pernak-pernik berwarna emas yang menghiasi pakaiannya. Bima sang mempelai pria juga tidak kalah gagah, ia juga memakai pakaian adat jawa.
Tubuhnya tinggi besar, kulitnya sawo matang, dia bukan orang Mojosari, dia seorang pebisnis kopi dari kota yang awalnya hanya mencari hasil panen kopi di Jawa Timur. Hingga akhirnya Bima sampai di Mojosari dan bertemu dengan Anjani.
Di dalam gubuk itu hanya ada kedua mempelai, orang tua mereka, dan seorang penghulu yang tak lain adalah Ki Suratman. Sebelum akad dilangsungkan, Ki Suratman yang juga berpakaian adat Jawa berjalan ke arah kamar. Dia membawa semangkuk air garam di tangan kanannya, bibirnya bergetar mengucapkan mantra yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Ia letakkan mangkuk itu di depan pintu yang terlihat sudah sangat usang, tangan kanannya merogoh sebuah kunci. Pintu itu dikunci menggunakan rantai, Ki Suratman membukanya. Dia masuk seorang diri ke dalam kamar itu.
Di dalam sana tampak gelap sekali, bau busuk menguar menusuk hidung Ki Suratman. Lampu lima watt yang berkedap-kedip dinyalakan, dan tampaklah sesosok wanita berpakaian pengantin yang kedua kakinya dipasung menggunakan balok kayu berukuran besar.
Kedua pergelangan kakinya lecet dan berdarah. Rambutnya kusam dan sangat panjang seperti sudah bertahun-tahun tidak dipotong. Tubuhnya kurus kering, giginya hitam, mulutnya juga bau busuk. Wajahnya kotor sekali, maklum wanita itu tidak pernah dimandikan.
Kanti…, doakan warga kita mau menikah,” kata Ki Suratman sambil menatap si Kanti.
Kanti malah tersenyum dingin. Perlahan ia mendongak ke wajah Ki Suratman.
Salah sijisokowongemesti mati (salah satu dari mereka pasti mati)," katanya.
Ojo ngomong koyongono(jangan ngomong begitu). Anjani kuwiisihono hubungan keluarga karo aku (Anjani itu masih ada hubungan keluarga denganku),” timpal Ki Suratman memberitahu Kanti kalau sang mempelai wanita masih ada hubungan keluarga dengannya. AGEN BANDAR Q ONLINE
Setelah itu, ia menaburkan air garam dari mangkuk pada luka di pergelangan kaki Kanti. Hal tersebut membuat wanita itu berteriak kesakitan. Itu merupakan salah satu ritual agar kedua mempelai selamat dari marabahaya.
Setelah itu, Ki Suratman memadamkan kembali lampu kamar dan mengunci pintunya. Ia duduk di hadapan kedua mempelai, Bima dan kedua orangtuanya tampak tegang sekaligus ketakutan dengan apa yang mereka dengar saat ini. Kanti masih berteriak kesakitan sambil menceracau tidak jelas.
Itu siapa. Ki?” tanya Bima.
Dia Kanti.”
Kenapa dia dikurung, Ki?” tanya ayahnya Bima.
Ceritanya panjang. Lain kali akan aku ceritakan. Sekarang kita lanjutkan saja pernikahan ini,” kata Ki Suratman.
Tapi kami berdua sudah aman kan, Ki?” tanya Anjani si mempelai wanita.
Tentu saja. Aku sudah melakukan semua ritualnya,” jawab Ki Suratman.
Kenapa kita harus menggelar pernikahan tengah malam seperti ini, Ki?” tanya ibunya Bima.
Di Mojosari memang harus kayak gini. Kalau nikahnya siang, salah satu dari mempelai bisa celaka,” Ki Suratman menjawabnya sambil senyum ramah.
Kedua orang tua Bima mulai tidak tenang. Dia takut kalau terjadi sesuatu pada anaknya. Kalau tahu begini, mungkin saja mereka tidak akan mengizinkan Bima menikah dengan orang Mojosari.
Sesaat setelah Bima mengucapkan akad nikah, pintu kamar Kanti bergetar hebat. Dari dalam kamar itu terdengar suara Kanti tertawa terbahak-bahak.
Deknebakal dadi koncokuk(dia bakal jadi temanku),” Kanti berteriak.
Siapa yang akan menjadi temannya? Apakah itu sebuah ancaman bagi kedua mempelai?
Semua orang yang ada di dalam gubuk itu ketakutan kecuali Ki Suratman. Ia bangkit lalu mendekat ke arah kamar Kanti.








0 komentar:
Posting Komentar