Minggu, 30 Agustus 2020

CAHAYA : (Pengantin Jawa) Istriku Hidup Kembali Setelah Berhari-hari Dikubur (Part 5)

CAHAYA :  (Pengantin Jawa) Istriku Hidup Kembali Setelah Berhari-hari Dikubur (Part 5)

Bima rela melewatkan banyak klien potensialnya demi merawat makam Anjani. Bisnis kopi yang dia kelola perlahan pendapatannya kian menurun. Sebeb yang dilakukan Bima setiap hari hanya berdiam diri di kamar sambil mengelus-elus batu nisan istrinya. AGEN POKER ONLINE

AGEN POKER DOMINO QQ - AGEN DOMINO Q ONLINE - AGEN BANDAR Q - AGEN SAKONG - AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA

Setiap pagi dan sore, Bima rajin menyiram makam istrinya itu. Walau pun dia sangat menyayangi makam istrinya, Bima tidak tidur di kamar itu. Melainkan mengisi kamar yang bersebelahan dengan makam.


Suatu malam Bima terbangun, dia mendengar suara pintu kamar sebelah dibanting berkali-kali. Suara itu sangat mengganggu, Bima heran siapa yang melakukannya, padahal di rumah itu dia hanya tinggal sendirian. Pak satpam tidak mungkin masuk ke dalam rumah tanpa izin Bima.


Terpikirlah oleh Bima kalau yang membanting pintu kamar sebelah itu adalah maling. Buru-buru ia bangun lalu mengambil sebuah pistol tipe Glock 20 yang ia beli dari pedagang ilegal. Sambil mengendap-endap, Bima mendekat ke pintu kamarnya. Dia harus hati-hati, takutnya maling itu juga bawa pistol.


Dengan pelan, ia buka sedikit pintu kamarnya dan mengintip dari celah pintu itu. Tidak sampai sepuluh detik, Bima dengan cepat menutup kembali pintu kamarnya. Dia kaget dengan apa yang dilihatnya barusan.


Di pintu kamar tempat Anjani dimakamkan, ia melihat sosok si Kanti sedang memainkan daun pintu. Wajahnya datar dan menakutkan, rambutnya menjuntai panjang, mungkin sampai sepuluh meter merambat di atas lantai. Bima masih mendengar suara pintu dibanting. Jantung Bima berdetak hebat, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. AGEN DOMINO QQ

AGEN POKER DOMINO QQ - AGEN DOMINO Q ONLINE - AGEN BANDAR Q - AGEN SAKONG - AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA

Beberapa saat kemudian, suara itu hilang. Bima kembali mengintip dari celah pintu. Dan kali ini dia terjungkal saking kagetnya karena si Kanti berdiri tepat di depan pintu kamarnya sendiri.


Pintu kamar Bima perlahan terbuka sedikit, mungkin hanya satu jengkal tangan orang dewasa. Masih dalam posisi duduk, Bima meringsut mundur sambil mengarahkan pistolnya ke pintu.


“Salah aku apa?! Kenapa kau terus mengangguku?!” bentak Bima.


Tidak ada sosok yang muncul dari balik pintu itu. Bima bangkit sambil terus waspada dia mendekat ke arah pintu. Dari balik pintu itu, ada seseorang yang melempar sebuah kain kafan yang tampak kotor, masih ada butiran tanah pada kain kafan itu.


Segera Bima ambil kain kafan itu, terpikirlah sesuatu di kepalanya. Buru-buru dia keluar lalu masuk ke dalam kamar tempat Anjani dikubur. Bima mematung di depan pintu kamar istrinya, kain kafan yang ia bawa seketika jatuh.


Ada yang membongkar makam Anjani, mayatnya digeletakkan begitu saja di atas lantai tanpa kain kafan alias telanjang bulat! Bima lari keluar rumah untuk memanggil Mang Asep, satpam penjaga rumahnya. Ia mau minta bantuan untuk menguburkan kembali mayat Anjani.


Mang Asep yang malam itu sedang mendengkur di posnya, seketika terbangun karena Bima menggedor kaca jendela pos satpam.


“Mang…! Mang Asep, tolongin saya Mang,” kata Bima dengan nada tinggi.


Mang Asep dengan sigap memakai topi satpamnya dan keluar dari dalam pos.


“Ada apa, Pak?” tanya Mang Asep, dia ikut panik. Dalam hatinya, Mang Asep menebak-nebak kalau rumah majikannya itu kemalingan. AGEN BANDAR Q ONLINE


“Ayo ikut saya. Saya butuh bantuan Mang Asep sekarang.”


“Siap, Pak,” Mang Asep penasaran lantara jarang sekali malam-malam begini Bima membangunkannya.


Bima menyuruh Mang Asep untuk menunggu di depan kamar, sementara Bima akan mengkafani lagi istrinya itu. Setelah selesai, Bima langsung menghampiri Mang Asep lalu menyuruhnya untuk mengambil cangkul di gudang.


“Mang malam ini nggak lihat orang masuk ke rumah saya, kan?” tanya Bima sebelum Mang Asep mengambil cangkul.


“Nggak lihat, Pak.”


“Oya, Mang Asep kan dari tadi tidur,” kata Bima kesal.


“Maap Pak saya ketiduran. Memangnya ada apa ya, Pak?”


“Makam istri saya ada yang bongkar.”


“Hah, serius Pak?!” kedua mata Mang Asep melotot saking kagetnya.


“Iya Mang cepat ambil cangkul. Bantu saya menguburkannya lagi.”


“Ba…, baik Pak.”


Tidak lama berselang, Mang Asep muncul membawa dua buah cangkul. Dia memberikan satu cangkul itu pada majikannya. Tangan Mang Asep bergetar saat menyentuh mayat Anjani yang mulai membusuk. Wajah Anjani keriput dan lembek, di bagian mata dan hidungnya menetes darah hitam yang kental, mayat itu baru akan mengalami proses pembusukan.


Mang Asep turun ke dalam liang lahat, dia menyambut mayat yang disodorkan Bima dari atas. Setelah itu, Bima ikut masuk ke dalam liang lahat. Sebelum mayat Anjani dihadapkan ke arah kiblat, tiba-tiba Mang Asep melihat kedua mata Anjani melotot, mayat itu lalu tersenyum dingin pada Mang Asep.


Jelas saja Mang Asep kaget lalu berteriak. Refleks dia keluar dari liang lahat itu. Anehnya, yang melihat kejadian mengerikan itu hanya Mang Asep, sementara Bima tidak melihat keanehan apa pun pada mayat Anjani.


“Ada apa Mang?!” tanya Bima kaget.


“Bu Anjani hidup lagi!” tunjuk Mang Asep ke arah mayat Anjani.


Mang Asep masih melihat kalau Anjani itu melotot sambil tersenyum. Ia pun lari keluar dari kamar, meninggalkan Bima seorang diri di dalam liang lahat.


“Mang Asep! Tunggu! Mau ke mana Mang?!” panggil Bima dari dalam liang lahat.

0 komentar:

Posting Komentar