Jumat, 28 Agustus 2020

CAHAYA : (Pengantin Jawa) Benjolan di Punggung Pengantin (Part 3)

CAHAYA :  (Pengantin Jawa) Benjolan di Punggung Pengantin (Part 3)

Keesokan paginya, kampung Mojosari masih tampak mencekam. Para pemuda yang biasanya sepagi ini udah nongkrong di pos ronda memilih berdiam diri di rumah. AGEN POKER ONLINE

AGEN POKER ONLINE - AGEN DOMINO QQ - AGEN BANDAR Q - AGEN SAKONG - AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA

Mungkin karena semalam ada orang yang menikah di gubuknya si Kanti. Mereka yakin kalau pernikahan di kampungnya itu membawa sial. Jadi, biasanya mereka akan mengurung diri di rumah selama tiga hari.


Lain halnya dengan Ki Suratman, dia tidak percaya dengan mitos itu. Sepagi ini dia sudah berada di kandang kuda miliknya. Setiap pagi Ki Suratman memang rajin memandikan kuda kesayangannya.


Di rumahnya, Ki Suratman tinggal berdua dengan pembantunya, Mbok Hafsah. Walau sudah tua, Mbok Hafsah masih tampak lincah dan cekatan kalau diperintah oleh Ki Suratman. Selain membersihkan rumah majikannya, Mbok Hafsah juga rutin mengantarkan makanan untuk Kanti.


Tidak seperti warga kampung lainnya, Mbok Hafsah sama sekali tidak takut pada Kanti. Dia sudah terbiasa berinteraksi dengan perempuan malang itu. AGEN DOMINO QQ

AGEN POKER ONLINE - AGEN DOMINO QQ - AGEN BANDAR Q - AGEN SAKONG - AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA

“Mbok Hafsah…!” panggil Ki Suratman. Tangannya masih sibuk menggosok tubuh kuda dengan sikat.


“Iya, Ndoro,” sahut Mbok Hafsah. Dengan tergopoh-gopoh dia muncul dari dapur.


“Kanti udah dikasih makan?” tanya Ki Suratman tanpa menoleh ke arah Mbok Hafsah.


“Belum, Ndoro,” jawab Mbok Hafsah sambil tertunduk.


“Ya udah, sana kasih makan,” ujar Ki Suratman.


“Baik, Ndoro.”


Mbok Hafsah segera beranjak ke dapur lagi. Sesaat kemudian dia muncul kembali dengan membawa rantang nasi. Ia lalu pergi ke gubuknya Kanti. Mbok Hafsah sebenarnya kasihan melihat kondisi Kanti. Dia ingin sekali memandikan perempuan malang itu. Tapi Ki Suratman melarangnya.


Sesampainya di depan gubuk, Mbok Hafsah membuka rantai yang membelenggu pintu gubuk. Ia pun masuk ke dalamnya, dilanjutkan dengan membuka rantai pintu kamar Kanti.


Pintu itu perlahan dibuka menimbulkan suara derit yang nyaring. Seketika saja rantang yang dibawa Mbok Hafsah jatuh. Nasi dan tempe tumpah acak-acakan. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung lari sekuat tenaga untuk memberi tahu Ki Suratman.


Tidak sampai sepuluh menit, Mbok Hafsah sudah sampai di halaman kandang kuda Ki Suratman. Dia tidak langsung berbicara, napasnya tersengal. Mbok Hafsah memegang kedua lututnya. Dia kelelahan karena lari dengan seluruh tenaga yang ia punya.


“Ndoro… Kanti, Ndoro…,” kalimatnya terputus-putus.


“Kamu itu kenapa, Mbok? Ada apa sama si Kanti,” Ki Suratman juga ikut panik.


“Kanti hilang, Ndoro!” akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Mbok Hafsah.


“Hah? Hilang? Yang benar kamu, Mbok?”


“Sumpah, Ndoro. Saya nggak lihat Kanti di kamarnya. Bahkan, balok pasungnya juga hilang.”


“Bangsat!” umpat Ki Suratman.


Dia masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil sebuah keris. Pastilah itu keris sakti. Dulu keris itu pernah ia gunakan saat menangkap Kanti. Ki Suratman pergi ke gubuk Kanti. Dan, benar saja apa yang dikatakan Mbok Hafsah. Si Kanti menghilang. Bahkan, balok pasungannya juga hilang. Ini aneh! BANDAR Q ONLINE


Tidak butuh waktu lama, kabar tentang hilangnya Kanti langsung menyebar ke seluruh warga kampung Mojosari. Kabar itu membuat mereka panik dan ketakutan. Jadi, selama Kanti dikabarkan hilang, kampung itu seketika tambah sepi. Hanya orang-orang pilihan Ki Suratman saja yang berkeliaran setiap malam untuk mencari keberadaan Kanti.


Tidak terkecuali dengan Bima dan Anjani, sudah beberapa hari ini mereka berdiam diri di rumah. Bima sudah punya rencana akan membawa Anjani ke kota. Dia yakin kehidupan mereka di sana akan lebih nyaman ketimbang di Mojosari.


Malam itu Anjani sedang mematut diri di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang panjang. Bima masuk ke dalam kamar dan langsung menyentuh kedua pundak istrinya itu. Dari pantulan cermin, Bima memperhatikan paras istrinya yang cantik. Anjani pun tersenyum.


Bima memeluk istrinya lalu membaringkannya di atas kasur. Namun, baru saja Bima hendak merangkul istrinya, tiba-tiba Anjani berteriak. Ia melihat bayangan Kanti terpantul di cermin.


“Kenapa, Sayang?” tanya Bima kaget.


“Tadi ada Kanti di cermin,” napas Anjani terengah-engah. Raut wajahnya sangat ketakutan.


“Mana? Nggak ada kok,” kata Bima.


Bayangan itu menghilang. Padahal, jelas-jelas Anjani baru saja melihat Kanti berpakaian pengantin sedang berdiri di cermin. Anjani juga melihat kalau kedua kaki Kanti masih dipasung.


Sesaat setelah Anjani melihat bayangan Kanti, tiba-tiba ia meringis kesakitan. Tangannya mencoba menggapai-gapai punggungnya yang terasa ada sesuatu.


“Ada apa sayang?”


“Punggung aku sakit,” jawab Anjani sambil meringis.


Bima memeriksa punggung istrinya. Ia menemukan benjolan kecil sebesar biji kelereng di punggung istrinya sebelah kanan.


“Ada benjolan. Besok kita periksa ke dokter ya,” Bima menutup kembali baju istrinya.


Semalaman suntuk, Anjani tidak bisa tidur. Benjolan di punggungnya seakan bergerak-gerak, bikin ngilu dan perih. Beberapa kali ia membangunkan suaminya karena rasa sakit itu semakin parah.


Keesokan paginya, wajah Anjani pucat. Tubuhnya juga sangat lemas. Tanpa pikir panjang lagi, Bima meminta izin kepada orang tua Anjani untuk membawanya ke kota. Benjolan di punggung Anjani harus diperiksa oleh dokter spesialis.


Jam 9 pagi, Bima dan Anjani sudah berkemas. Mereka berangkat menggunakan mobil SUV. Sambil menyetir sesekali Bima memperhatikan istrinya yang semakin pucat itu. Dia khawatir kalau nanti benjolan itu tidak bisa disembuhkan secara medis.


Sesaat sebelum mobil mereka keluar dari kampung Mojosari, tiba-tiba Bima melihat Kanti berdiri di antara pohon bambu di pinggir jalan. Bima menelan ludah. Dia mencoba untuk tenang dan tetap fokus menyetir mobil.

0 komentar:

Posting Komentar