Bima punya rumah di kota metropolitan. Rumah itu ia beli dua tahun lalu dari seorang pengusaha tambang batubara. Setelah resmi menjadi miliknya, Bima mengubah rumah itu menjadi nuansa Jawa.
AGEN POKER ONLINE
Maksudnya biar dia merasa ada di kampung halaman. Bagian depan rumah itu dibuat seperti rumah joglo dengan hiasan lampu khas Jawa di depannya. Di beranda rumah itu, ada kursi dan meja yang terbuat dari kayu jati.
Sebenarnya, rumah ini jarang sekali Bima tempati. Maklum dia itu adalah seorang pebisnis kopi. Jadi, ia lebih sering tinggal di luar kota ketimbang di rumah mewahnya itu. Selama Bima berada di luar kota, rumah itu hanya dijaga oleh seorang satpam. Itu pun hanya menjaga keamanannya saja. Urusan bersih-bersih itu bukan tanggung jawabnya.
Oleh karena itu, saat pertama kali Anjani menginjakkan kaki di rumah Bima, ia terkejut karena tidak menyangka kalau suaminya punya rumah sebesar ini di kota. Dia juga bingung bagaimana cara membersihkan rumah sebesar itu. Debu menempel di mana-mana, juga banyak sarang laba-laba.
AGEN DOMINO QQ
“Mas, rumah ini sudah berapa tahun nggak kamu tempati?” tanya Anjani.
“Dari pertama beli sekitar tiga tahun lalu. Habisnya aku selalu sibuk di luar kota.”
“Sayang sekali ya, Mas. Padahal rumahnya bagus banget,” Anjani masih memperhatikan ruang tamu di rumah itu.
“Aku sengaja beli rumah ini buat persiapan aja. Biar kalau udah berkeluarga, aku nggak bingung nyari rumah. Dan, mulai dari sekarang, kita akan tinggal di rumah ini,” Bima merangkul pundak istrinya sambil tersenyum.
“Aku bingung cara bersihin rumah sebesar ini, Mas,” ucap Anjani.
“Jangan khawatir. Kamu istirahat aja. Nanti biar aku suruh orang buat bersihin rumah kita, ya.”
Bima dan Anjani menempati kamar yang dekat dengan ruang tamu. Kamar itu juga bernuansa etnik Jawa. Di bagian dipannya ada ukiran kata-kata menggunakan bahasa sanskerta yang Bima sendiri tidak tahu artinya.
Satu minggu sudah Anjani tinggal bersama Bima di rumah itu. Tapi, benjolan di punggungnya tidak kunjung sembuh. Sekali pun Anjani sudah dioperasi, benjolan itu tetap tumbuh lagi. Sekarang benjolannya malah bertambah menjadi tiga. Bengkaknya terus membesar seperti akan pecah.
Bima sudah membujuk Anjani untuk dirawat di rumah sakit, tapi dia tidak mau. Anjani tidak mau menjadi orang pesakitan. Dia ingin tetap mendampingi suaminya di rumah. Akhirnya setiap hari, dokterlah yang berkunjung ke rumah Bima untuk memeriksa secara rutin kondisi Anjani.
Sayangnya, semakin lama kondisi Anjani semakin memburuk. Benjolan itu memang sudah agak kempes, tapi warna kulit punggungnya seperti memar dan busuk. Sekarang Anjani hanya bisa berbaring di tampat tidurnya.
Di saat seperti itu, Anjani meminta sesuatu pada Bima. Itu adalah permintaan pertamanya dari semenjak menikah dengan Bima. Walau Bima ini terbilang kaya-raya, tapi Anjani tidak pernah minta apa pun kepada suaminya. Baginya, hidup bersama Bima sudah lebih dari cukup.
“Mas, aku boleh minta sesuatu?” tanya Anjani dengan nada bicara yang pelan.
Ia menoleh perlahan ke arah suaminya yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
“Boleh, Sayang. Kamu mau minta apa?”
“Aku minta dibelikan balon berbentuk hati warna merah jambu. Mas masih ingat kan? Pertama kita ketemu di pasar malam itu, Mas ngasih aku balon berbentuk hati.”
“Iya, Sayang. Hari ini juga akan aku belikan,” kata Bima sambil mengecup kening istrinya.
Tidak butuh waktu lama, Bima bisa menemukan balon gas warna merah jambu dan berbentuk hati. Balon itu ia ikatkan di tempat tidur Anjani dan dibiarkan melayang di atas. Malam itu mereka tidur bersama. Bima memeluk tubuh istrinya yang semakin kurus. Ia sangat mencintai Anjani.
Tengah malam, Anjani membangunkan suaminya. Wanita itu terlihat segar, wajahnya juga tidak pucat lagi. Dalam kondisi mengantuk, Bima bangun. Ia terkejut saat melihat Anjani bisa bangun.
“Mas, aku sembuh,” kata Anjani sambil tersenyum. AGEN BANDAR Q ONLINE
“Wah, Alhamdulillah kalau begitu,” Bima sangat senang melihat wajah istrinya yang tampak segar.
“Mas, temani aku yuk,” ajak Anjani, ia turun dari tempat tidur.
“Ke mana?” Bima melirik jam dinding, masih jam 2 dini hari.
“Ke kolam renang belakang rumah kita.”
Bima mengiyakan ajakan istrinya. Dia pun turun dari tempat tidur. Lengan Bima ditarik oleh Anjani. Wanita itu terlihat gembira sekali. Malam-malam begini, Anjani berendam di kolam renang. Bima sudah melarangnya, tapi Anjani memang bandel. Sesekali dia malah mencipratkan air ke arah Bima.
Tepat jam tiga dini hari, mereka berdua kembali ke tempat tidur. Bima memeluk tubuh istrinya, dan itu menjadi pelukan terkahir. Sebab, keesokan paginya, Anjani meninggal dunia. Dia tidur untuk selamanya.
Bima menangis. Bahkan, ia berteriak di samping jasad Anjani. Ia tidak menyangka kalau kebahagiaannya sesingkat ini.
Orang tua Anjani dijemput. Begitupun dengan orang tua Bima. Mereka semua berkumpul di kamar Anjani. Sementara itu mayat Anjani dibaringkan di atas tempat tidur dan sudah dikafani oleh Bima sendiri.
“Bu, Pak, aku mau memakamkan Anjani di kamarku sendiri,” kata Bima dengan suara yang parau. Jelas saja itu membuat orang tua Anjani kaget.
“Nggak bisa. Anjani akan kami bawa ke Mojosari,” kata bapak Anjani yang sudah tua itu.
“Aku masih sayang sama dia, Pak. Kumohon izinkan aku memakamkannya di kamar ini. Aku janji akan merawat makam Anjani dengan baik.”
“Udah gila kamu, Bim. Biarkan Anjani dikubur di kampung halamannya,” timpal ibu Bima.
“Aku belum siap kehilangan Anjani,” Bima tertunduk sambil menangis. AGEN JUDI TERPERCAYA
“Menurut ayah, biarkan saja Bima mengubur istrinya di kamar ini,” kini ayahnya Bima membela.
Kedua orang tua Anjani terdiam. Mereka seperti tengah mempertimbangkan permintaan Bima.
“Ya sudah kalau itu mau kamu. Tapi, kamu harus jaga kuburan anak kami dengan baik,” kata ayah Anjani yang akhirnya mengiyakan keinginan Bima.
“Kalian sudah gila! Mana mungkin ada kuburan di dalam kamar?” bentak ibunya Bima.
“Biarkan saja, Mah. Itu kemauan anak kita,” ayahnya Bima tetap membela anaknya.
Maka, malam itu juga lantai kamar Bima dibongkar. Anjani dikuburkan di dalam kamar itu. Balon gas berbentuk hati, diikatkan di batu nisan Anjani. Mereka tidak menyadari satu hal bahwa di sudut ruangan kamar Bima yang remang, Kanti berdiri menyaksikan pemakaman Anjani.
Kanti sudah sejak lama da di kamar itu. Dari awal dia memang mengikuti Anjani.